Rabu, 12 Agustus 2009

aksi "1 hari tanpa tv" memperingati hari anak nasional





Tgl 25 Juli 2009, KAMMI Komsat Kutai Kartanegara beraksi menghimbau seluruh lapisan masyarakat yang ada di Kutai Kartanegara untuk selama 1 hari saja pada tanggal 26 Juli 2009 untuk tidak menonton TV dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih berarti khususnya mereka yang memiliki anak pra-sekolah dan SD. Aksi ini dilakukan di Pertigaan Lampu merah di depan Lap. parkir Pulau Kumala. yang dimulai pada pukul 16.00 s/d 17.30.

Selain berorasi KAMMI juga menyebar membagi-bagikan brosur dan pamflet yang berisi ajakan untuk tidak menonton televisi selama satu hari saja. Ini adalah salah satu upaya untuk meminimalisir pengaruh negatif dari siaran televisi yang tidak mendidik anak-anak . kita tidak akan mungkin bisa menutup lembaga penyiaran yang menayangkan hal-hal yang tidak sehat .Dan memang ini adalah wujud nyata dari kesadaran akan pentingnya bermedia dengan cerdas dan kritis. Selamatkan lah anak-anak dan adik-adik kita dari pengaruh-pengaruh negatif dari program televisi yang sungguh tidak mendidik, karena mereka adalah generasi penerus bangsa maka dari itu kita mulai dari diri kita sendiri.

Senin, 22 Juni 2009

Kontribusi Yang Kecil

Kontribusi yang kecil
Tiga diantara sepuluh orang di indonesia yang berpikir untuk menjalankan roda pemerintahan, ekonomi dan lain sebagainya hanya dari kursi tersembunyi yang letaknya di belakang sang "pelaku". watak yang sebenarnya, ya itulah yang saya maksud. Tidak perlu repot-repot turun tangan hingga belepotan untuk melakukan semua pekerjaan itu. seperti seorang plan manager dan mangernya. "biar si "presiden" saja yang melakukannya, saya hanya perlu berpikir dan merencanakan. toh..untuk apa saya menyumbang jika apa yang saya mau tidak saya dapatkan."
watak dibalik tokoh, Saya menyebutnya kontribusi yang besar perencana yang sebenarnya. hingga tercapainya keingingan. tidak terpublikasi tapi dihormati di kalangan tertentu. cerdas!

tapi bagaimana dengan sebuah kontribusi yang kecil, saya jadi teringat akan sebuah kisah yang pernah saya dengar, kira- kira begini...pada upacara penyambutan presiden china dibuatlah sebuah pesta yang sangat meriah. Tarian, marching Band, arak-arakan dan sebagainya termasuk pigura yang bergambar wajah sang presiden. berlatihlah mereka selama berbulan-bulan(maaf saya tidak tahu tepatnya berapa) segala persiapan pun sukses dan siap untuk ditampilkan. Pada hari H segalanya berjalan sesuai rencana, presiden china tersebut sangat senang dengan penyambutan namun ternyata beberapa menit kemudian wajah sang presiden berubah menunjukan ekspresi yang "tidak baik" pigura yang bergambar wajahnya kehilangan satu gigi(gigi paling depan).

Tahu apa sebabnya? hanya karena salah seorang dari pemegang pigura itu merasa minder dengan amanah yang diberikan, " saya cuma pemegang pigura yang tidak diketahui wajahnya, siapa yang akan memuji jika tugasku hanya memegang gigi yang digunakan untuk menggigit kol"(maaf jika terlalu berlebihan). pigura bergambar wajah sang pemimpin yang seharusnya menjadi indah sudah tidak terlalu indah hanya karena kesalahan satu orang saja dan tentu saja sia-sialah latihan berbulan-bulan itu. Sebenarnya pekerjaan sekecil apapun sangatlah berpengaruh ke hal-hal yang lain, betapapun itu. seperti uang seratus ribu namun kurang Rp.25,-. maka kita belum akan menyebutnya seratus ribu rupiah. bayangkan jika tidak ada Petugas Umum(PU), bayangkan jika tidak ada Office Boy(OB), bayangkan jika tidak ada, bayangkan jika tidak ada pembantu, bayangkan dan bayangkan...

sepele namun berdampak sangat besar persis dengan Rp.25- itu tadi. tulisan ini untuk saudara dan saudariku yang kusayangi karena Allah yang masih memelihara perasaan "minder" tsb dimanapun kalian berada. walau kita hanya ditugaskan menjadi sie. konsumsi atau sie transportasi dalam sebuah kegiatan, ingatlah!kata kuncinya adalah "kontribusi" walau sekecil apapun amal kita (sekecil buah zarah) Allah akan mencatat perbuatan baik itu. insya Allah bertambahlah timbangan kebaikan kita jika dilakukan dengan ikhlas. dan janji Allah itu pasti.